Rabu, 22 Mei 2013

Makalah Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Bagi Siswa Kelas V Sekolah Dasar


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Membaca merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan, sampai saat ini. Baik di tingkat sekolah dasar, menengah, maupun tinggi. Setiap orang tua pasti bangga memiliki seorang anak yang pandai, tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang menginginkan anak yang miskin ilmu pengetahuan maupun tak punya wawasan yang luas. Kepandaian seseorang tidak dapat lepas dari kegiatan membaca karena dengan membaca bisa mengetahui banyak sekali hal-hal yang terjadi di buni ini. Selain itu kita dapat memahami isi yang tertulis di dalam buku yang kita baca. Namun dalam kenyataan sekarang minat baca di negara kita masih sangat rendah ataupun kurang. Hal ini  terjadi, karena kurangnya ketrampilan membaca para siswa. Akibatnya dengan ketrampilan membaca yang terbatas tersebut siswa sekolah dasar menjadi kurang dapat memahami bahan bacaan yang mereka baca dan berdampak mereka menjadi malas untuk membaca.
Untuk meningkatkan ketrampilan membaca siswa sekolah dasar, guru perlu memperhatikan perihal pemilihan bahan ajar membaca, teknik pengajaran membaca, dan problem umum yang dihadapi siswa dalam membaca, baik yang berkenaan dengan hubungan bunyi-huruf, suku kata, kata, kalimat sederhana, maupun ketidakmampuan siswa memahami isi bacaan.

                                                                                         
Hal ini sebagaimana diketahui bersama, bagi sebagian besar siswa SD bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua. Dalam teori belajar bahasa dikemukakan bahwa bahasa pertama (bahasa ibu) memiliki peran dalam keberhasilan belajar, bahasa kedua yaitu  membaca dan menulis bahasa Indonesia.
Tujuan utama dari kegiatan belajar mengajar di kelas yaitu agar siswa dapat menguasai pelajaran sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan. Seorang pendidik sudah berupaya mulai dari penyusunan rencana pembelajaran, penggunaan metode belajar mengajar yang sesuai sampai dengan pelaksanaan bimbingan secara efektif.
Berdasarkan hal itu , penulis bermaksud untuk  menyampaikan gagasan yang berkaitan dengan hal tersebut, kemudian penulis sampaikan dalam bentuk Makalah dengan judul:” Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Bagi Siswa Kelas V Sekolah Dasar”.

B.     Permasalahan
Membaca pada dasarnya juga merupakan kegiatan berpikir. Perlu disadari bahwa kegiatan pemahaman tidak harus menunggu sampai siswa lancer membaca. Membaca Pemahaman pada pelajaran bahasa Indonesia dianggap sulit oleh beberapa siswa SD disebabkan karena minat siswa yang kurang dalam membaca teks bacaan, sehingga menyebabkan kesulitan dalam memahami bacaan. Permasalahan inilah yang kemudian penulis angkat dalam Makalah yaitu “Bagaimana cara meningkatkan Kemampuan  pemahaman dalam membaca teks bacaan pada siswa kelas V sekolah dasar?”.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, rumusa masalah  yang akan dibahas adalah : “ Bagaimanakah Tekhnik Mengajarkan Membaca yang Tepat bagi siswa kelas V sekolah Dasar ? “
D.    Pemecahan Masalah
Dari rumusan masalah, pemecahan masalah yang penulis gunakan adalah menggunakan pendekatan ketrampilan proses. Hal ini karena pendekatan ketrampilan proses menjadikan siswa dapat membaca siswa dapat  membaca cepat teks bacaan, menemukan gagasan utama, dan menjawab pertanyaan yang diajukan (pemahaman).
E.     Tujuan
Tujuan pada pembahasan ini adalah untuk mengetahui cara meningkatkan Kemampuan membaca pemahaman teks bacaan bagi kelas V sekolah Dasar.

BAB II
    PEMBAHASAN
A.    Pengertian Membaca
1.      Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata / bahas tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik. Membaca merupakan proses rekonstruksi makna sebuah teks. Dalam pengertian ini membaca merupakan suatu untuk menelusuri makna yang ada didalam sebuah tulisan. (Yeti Mulyati, 2005: 5.3)
2.      Membaca yaitu kegiatan yang aktif agar siswa dapat membaca secara “aktif” mereka perlu berlatih untuk dapat mengkomunikasikan dua kalimat sebagai berikut: (a) apa yang mereka ketahui, (b) isi atau cerita yang sedang mereka telusuri melalui kegiatan membaca teks. (Kaswanti, Purwo Bambang.1997:5)
3.      Membaca adalah kegiatan merespons lambang-lambang cetak atau lambang tulisan dengan pengertian yang tepat. (Harjosujono dalam   Mulyati Yeti: 72)
B.     Tujuan Membaca
Menurut Supriyadi (1991: 118) tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti erat sekali berhubungan dengan tujuan intensif di dalam membaca.
Berikut ini penggolongan membaca berdasarkan tujuan dan bahan yang digunakan antara lain:
1.      Membaca untuk mendapatkan pengtahuan  (informasi), jenis membaca yang cocok untuk untuk keperluan ini adalah membaca didalam hati. Bahkan bacaan yang dapat dipergunakan antara lain: Laporan (peristiwa, perjalanan, pertandingan ), Berita dalam Koran , buku-buku pelajaran, dan lain-lain.
2.      Membaca untuk memupuk perkembangan keharuan dan keindahan. Jenis membaca yang cocok untuk keperluan ini adalah membaca teknis/nyaring, dapat pula membaca dalam hati untuk jenis-jenis tertentu seperti prosa-fiksi. Bahan bacaan yang cocok untuk tujuan membaca seperti ini adalah: puisi, sajak, prosa berirama, dan prosa-fiksi biasa.
3.      Membaca untuk mengisi waktu luang. Jenis membaca yang dipergunakan tidaklah terikat pada jenis tertentu, demikian pula bahan bacaanya. Yang penting perlu ditanamkan kepada siswa adalah bagaimana dapat mengisi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat.
Menurut kurikulum 1994 bahwa tujuan dari pembelajaran membaca disesuaikan dengan tingkat kelas masing-masing. Dibawah ini kutipan tujuan pengajaran membaca khusus pada kelas V sekolah Dasar (Yeti Mulyati, 2005:2.4) adalah:
1.      Siswa mampu membaca teks bacaan dan menyimpulkan isi bacaan dengan kata-kata sendiri.
2.      Siswa mampu membaca teks bacaan secara cepat dan dapat mencatat gagasan-gagasan utama.
3.      Siawa mampu mengetahui isi cerita, puisi, drama, serta dapat memberikan tanggapan.
C.    Cara Mengembangkan Ketrampilan Membaca
Setiap guru haruslah dapat membantu serta membimbing para siswa untuk mengembangkan serta meningkatkan ketrampilan-ketrampilan yang mereka butuhkan dalam membaca.
Menurut Supriyadi (1991: 117) usaha yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan ketrampilan membaca itu antara lain:             
1.      Guru dapat menolong para pelajar memperkaya kosa kata mereka dengan jalan:
a.       Memperkenalkan sinonim kata-kata, antonym kata-kata, parapharase, kata-kata yang berdasar sama;
b.      Memperkenalkan imbuhan, yang mencakup awalan, sisipan, dan akhiran;
c.       Mengira-ngira atau menerka makna kata-kata dari konteks atau hubungan kalimat;
d.      Kalau perlu, menjelaskan arti sesuata kata abstrak densan mempergunakan daerah atau bahasa ibu siswa.
2.      Guru dapat membantu para siswa untuk memahami maksud struktur-struktur kata, kalimat , dan sebagainya dengan cara-cara yang telah dikemukakan di atas, disertai latihan seperlunya.
3.      Kalau perlu guru dapat memberikan serta menjelaskan kawasan atau pengertian kiasan, ungkapan, pepatah, peribahasa dan lain-lain dalam bahasa daerah atau ibu.
4.      Guru dapat menjamin serta memastikan pemahaman para siswa dengan berbagai pertanyaan.
5.      Guru dapat meningkatkan kecepatan membaca para, dengan cara sebagai berikut
a.       Kalau siswa disuruh membaca dalam hati, ukurlah waktu membaca tersebut;
b.      Haruslah diusahakan agar waktu tersebut bertambah singkat serta efisien secara teratur sepanjang tahun;
c.       Haruslah dihindarkan gerakan-gerakan bibir pada saat membaca dalam hati, hal itu tidak baik dan tidak perlu dilakukan para siswa.
d.      Haruslah dijelaskan tujuan khusus, tujuan membaca bahan bacaan tertentu kepada para siswa. Mereka harus dapat menemukan dari bahan bacaan jawaban terhadap beberapa pertanyaan, atau beberapa kata atau sesuatu ide, pendapat atau pikiran utama (pikiran pokok), dan sebagainya.
Singkatnya, dalam mengembangkan serta meningkatkan ketrampilan membaca para siswa maka guru mempunyai tanggung jawab berat, paling tidak meliputi 6 hal utama yaitu:
1.      Memperluas pengalaman para siswa sehingga mereka akan memahami keadaan dan seluk-beluk tentang kebahasaan;
2.      Mengajarkan bunyi-bunyi (bahasa) dan makna-makna kata-kata baru;
3.      Mengajarkan hubungan bunyi bahasa dan lambang atau simbol;
4.      Membantu para siswa memahami struktur-struktur (termasuk struktur kalimat yang biasanya begitu mudah bagi siswa);
5.      Mengajarkan ketrampilan-ketrampilan pemahaman (comprehension skill) kepada para siswa;
6.      Membantu para siswa untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca.

D.    Aspek Membaca
Di muka telah diutarakan bahwa membaca merupakan suatu ketrampilan kompleks yang melibatkan serangkaian ketrampilan yang lebih kecil lainnya.
Menurut Harjosujono dalam Yeti Mulyati (2005: 2.3) secara garis besar,  terdapat 2 aspek penting dalam membaca yaitu :
1.      Keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills). Aspek ini mencakup:
a.       Pengenalan bentuk huruf;
b.      Pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem/grafem, kata frase, pola klause, kalimat dan lain-lain);
c.       Pengenalan hubungan/korespodensi pola ejaan bunyi (kemampuan menyuarakan bahan tertulis)
2.      Keterampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi (higher order). Aspek ini mencakup:
a.       Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal retorikal).
b.      Memahami signifikasi atau makna.
E.     Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan
Setiap guru bahasa haruslah menyadari serta memahami benar-benar bahwa membaca adalah suatu ketrampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup atau melibatkan serangkaian keterampilan-ketrampilan yang lebih kecil. Dengan perkataan lain, keterampilan membaca mencakup 3 komponen, yaitu :
1.      Pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca;
2.      Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik yang formal;
3.      Hubungan lebih lanjut dari a dan b dengan makna (meaning)
Keterampilan a merupakan suatu kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan mode yang berupa gambar-gambar di atas suatu lembaran, lengkungan-lengkungan, garis-garis, dan titik-titik dalam hubungan-hubungan berpola yang teratur rapi.
Keterampilan b merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas yaitu gambar-gambar berpola tersebut dengan bahasa. Adalah tidak mungkin belajar membaca tanpa kemampuan belajar memperoleh serta memahami bahasa. Hubungan-hubungan itu jelas sekali terlihat terjadi antara unsur-unsur dari pola-pola tersebut diatas kertas dan unsur-unsur bahasa yang formal. Sesuai dengan hakekat unsur-unsur linguistik yang formal tersebut, maka pada hakekatnya sifat ketrampilan itu akan selalu mengalami perubahan-perubahan pula. Unsur-unsur itu dapat merupakan kelompok-kelompok bunyi kompleks yang dapat disebut sebagai “kata” atau “frase” atau “kalimat” bahkan “paragraph”, “bab”, maupun “buku” atau dapat pula berupa unsur yang paling dasar, yaitu bunyi-bunyi tunggal yang disebut “fonem”
F.     Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
1.    Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), meliputi:
        a.   Minat (motivasi)
Kekurang pahaman terhadap manfaat berbahasa dengan baik dan benar akan mengurangi minat siswa dalam belajar bahasa. Akibatnya, ia memandang remeh dan kurang berminat untuk belajar. banyak factor-faktor penghambatnya, mengapa minat baca di Indonesia rendah tetunya banyak hal yang mempengaruhinya : Pertama, pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak / siswa/mahasiswa harus membaca (lebih banyak lebih baik), mencari informasi / pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan. Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku.  Ketiga, banyak tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karoke, night club, mall, supermarket dan lain-lain.  Keempat, budaya baca memang belum diwariskan secara maksimal oleh nenek moyang. Kita terbiasa mendengar dan belajar dari berbagai dongeng, kisah, adapt istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, tokoh masyarakat penguasa zaman dulu, anak-anak didongengi secara lisan, tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis, tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis, jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan.  Kelima, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Di hampir semua sekolah pada semua jenis dan jenjang pendidikan perpustakaannya masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan.  Perpustakaan sekolah belum sepenuhnya berfungsi, jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan, Padahal perpustakaan sekolah merupakan sumber membaca dan sumber belajar sepanjang hayat yang sangat vital dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
                 b.   Kemampuan Dasar Intelektual
Kemampuan dasar Intelektual yang rendah dapat menyebabkan siswa gagal dalam mengikuti pembelajaran pelajaran bahasa Indonesia.
                 c.    Bahasa Ibu
Untuk sebagian besar SD, Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua. Dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarganya, siswa menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai alat untuk berkomunikasi. Pola-pola kalimat dalam kosa kata dari bahasa ibu sedikit banyaknya akan mempunyai pengaruh yang kurang menguntungkan bagi siswa dalam belajar bahasa Indonesia di sekolah.
         2.     Faktor Eksternal
Faktor sarana penunjang sangat menentukan bagi keberhasilan siswa dalam belajar bahasa Indonesia. Oleh banyak pendidik dan pemerhati pendidikan di SD, faktor ini dianggap paling dominan. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa terhambatnya pengajaran bahasa Indonesia di SD terjadi akibat sangat minimnya sarana penunjang yang tersedia, misalnya belum adanya buku paket, kurangnya buku penunjang di perpustakaan sekolah, metode pembelajaran yang diterapkan kurang menantang siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh atau pemilihan bahan pelajaran yang kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga siswa merasa bosan dan frustasi.
G.    Peningkatan Kemampuan Membaca pada Anak
Membaca merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam        dunia pendidikan, sampai saat ini. Baik di tingkat sekolah dasar, menengah, maupun tinggi. Setiap orang tua pasti bangga memiliki seorang anak yang pandai, tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang menginginkan anak yang miskin ilmu pengetahuan maupun tak punya wawasan yang luas. Kepandaian seseorang tidak dapat lepas dari kegiatan membaca karena dengan membaca bisa mengetahui banyak sekali hal-hal yang terjadi di buni ini. Selain itu kita dapat memahami isi yang tertulis di dalam buku yang kita baca. Namun dalam kenyataan sekarang ini minat baca di negara kita masih sangat rendah ataupun kurang. Rendahnya minat baca atau rendahnya budaya membaca dapat disebabkan berbagai faktor. Faktor secara pribadi berkaitan dengan kurangnya motivasi/ dukungan dalam diri siswa untuk menanamkan bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi diri sendiri. Faktor yang lain adalah lingkungan sekitar yang menjauh dari kegiatan dan kebiasan membaca (merupakan faktor yang sangat berpengaruh besar).
          Untuk dapat menghadapi atau membantu masalah di atas salah satu yaitu menanamnya minat baca di lingkungan keluarga. Anak-anak selalu cenderung meniru tingkah laku yang dilakukan oleh anggota keluarganya. Jika seorang anak lahir dan dibesarkan di dalam keluarga yang duka membaca secara langsung si anak akan meliht danmerasakan bahwa kegiatanmembaca merupakan kegiatan yang bermanfaat serta menyenangkan.
          Dalam hal ini orang tua sangat berperan penting untuk meningkatkan minat baca si anak. Orang tua harus dapat menyediakan banyak buku-buku sabagai bagian dari kebutuhan rumah tangga. Selain menyediakan buku bacaan mungkin dengan membeli. Dalam membeli buku orang tua harus menyeleksi buku bacaan terlebih dahulu, apakah patut dibaca oleh anak atau tidak patut untuk dibaca anak. Karena sebuah bacaan akan berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak. Pembelian buku bacaan tidak harus yang mahal, tetapi yang lebih penting kita lihat isinya (bagus atau sesuai tidak untuk dibaca). Orang tua bisa membuat perpustakaan kecil dengan rak-rak berisi buku-buku bacaan yang ditata rapi agar menarik hati anak untuk membacanya. Penyusunan buku bacaan sebaiknya disusun sesuai dengan jenis bacaan. Buku bacaan anak-anak diusahakan dipisah dengan buku bacaan orang dewasa serta ditaruh dirak bagian paling bawah agar memudahkan anak dalam penataan dan pencarian buku.
         Orang tua harus bisa membangun suasana perpustakaan yang kondusif, nyaman danmenarik bagi anak dengan penerangan yang memadai, adanya sirkulasi udara yang baik serta tidak lembab.
         Selain membuat perpustakaan, ada hal-hal lain yang bisa dilakukan. Mengenalkan buku bacaan kepada anak sejak dini, menumbuhkan keinginan membaca sejak kecil. Bila dimulai sejak dini/ balita dengan memberikan pada anak buku bacaan yang lebih banyak ada gambar warna-warni dibanding teks, sehingga anak akan tertarik. Ketiga, bermain sambil membaca. Orang tua bisa menyuruh si anak membacakan resep dari masakan yang akan dibuat. Keempat, mengajak anak pergi ke perpustakaan umum, toko buku atau yang lainnya untuk lebih menambah pengetahuan anak tentang dunia buku. Kelima, supaya anak lebih bersemangat melakukan kegiatan membaca sebaiknya setiap keli anak membaca buku, tanyakanlah apa isi buku yang telah dibacanya. Ciptakan diskusi kecil dalam keluarga disaat waktu-waktu santai dan senggang. Untuk menjawab pertnyaan si anak akan berlatih untuk berani mengeluarkan pendapat mereka. Keenam, orang tua juga bisa membimbing anak untuk membuat ringkasan cerita dari buku yang telah dibacanya, kemudian menyuruh si anak untuk bercerita dengan bahasa sendiri.Dari hal-hal yang telah diuraikan di atas, diharapkan minat serta motivasi anak dalam mencari ilmu dan informasi dalam hal ini “membaca” akan terus menimgkat.
  BAB III
PENUTUP
     A.   Simpulan
Berdasarkan landasan teori, maka penulis dapat menyimpulkan simpulan sebagai berikut:
1.      Adanya pengaruh layanan bimbingan belajar yang dilakukan oleh guru, untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
2.      Perlu adanya peran serta tidak hanya sekolah tetapi juga orang tua siswa untuk meningkatkan keterampilan membaca.
3.      Perlu adanya peran pemerintah dalam membudayakan kebiasaan membaca dilingkungan masyarakat.
   B.   Saran
1.      Guru harus mengetahui karakteristik siswa yang mengalami kesulitan belajar bahasa Indonesia, sehingga dapat melakukan layanan bimbingan belajar dengan baik dan benar.
2.      Hendaknya siswa ikut aktif layanan bimbingan belajar bahasa Indonesia yang dilaksanakan oleh guru, agar dapat mengatasi kesulitan belajar bahasa Indonesia dan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
3.      Diharapkan adanya kerja sama antara orang tua dan sekolah dalam pelaksanaan layanan bimbingan belajar dalam mengatasi kesulitan belajar bahasa Indonesia khususnya membaca bagi para siswa.
4.      Hendaknya sekolah perlu mengembangkan layanan bimbingan belajar untuk mengentaskan kesulitan belajar dan meningkatkan prestasi siswa.
5.      Diharapkan Pemerintah menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung untuk membudayakan dan meningkatkan minat baca bagi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Kaswanti, Purwo Bambang. 1997. Pokok-pokok Pengajaran Bahasa dan Kurikulum 1994 Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Mulyati, Yeti 2005. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Supriyadi, 1991. Pendidikan Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan.
Tarigan, Djago. 2004. Pendidikan Keterampilan Berbahasa Jakarta: Universitas Terbuka. 

2 komentar:

Faisal Nisbah mengatakan...

Membaca merupakan keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahnnya menjadi cara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras

Belajar Komputer mengatakan...

Keren.Lanjutkan semnagat berabginya sobat

Poskan Komentar

Mau dapat duit??? klik ini :)

 
Design by Eko Bayu Giriyanto | Published by Template Dyto Share.us | Download Film Terbaru
Sisi Remaja Ebook Teknisi Komputer